SOAL DULU BARU
KISI-KISI
Kang Yunu
Dari seabrek tugas pendidik, salah satunya melakukan penilaian.
Penilaian dilakukan sebagai parameter antara perencanaan, pelaksanaan dan hasil
yang diharapkan. Mari kita ingat-ingat. Dalam satu tahun pembelajaran, kita
suka adakan penilaian harian, Penilaian Tengah Semester yang kemudian diganti
istilahnya jadi Penilaian Harian Bersama, endingnya ada Penilaian Akhir
Semester. Itu sekedar menyebut beberapa,
jika ada jenis penilaian yang belum tak tertuliskan, silahkan diingat-ingat
sendiri.
Saat akan melakukan penilaian, tidak sedikit pendidik yang merasa
kewalahan ketika harus membuat soal. Kendala awal, banyak pendidik yang membuat
soal ulangan tidak berdasarkan ketentuan, mungkin Saya, Anda, juga mereka lebih
sering membuat soal tanpa membuat kisi-kisi. “Siapa bilang, saya selalu buat.”
Buat sih, buat, tetapi kisi-kisi dibuat setelah soal. “Lah, saya mah buat
kisi-kisi dulu.” Anda benar, tetapi salahnya kisi-kisi yang Anda buat tidak sesuai aturan. “Memangnya ada yang
larang buat soal dulu baru kisi-kisi?” Tidak ada yang larang, hanya secara
tahapan terjadi penyimpangan. Tahapan yang mesti dilakukan yaitu buat
kisi-kisi, kemudian buat soal.
Saya, Anda, dan mereka pasti pernah mengikuti pelatihan atau workshop
atau apalah namanya tentang pembuatan soal? Nah, mari buka kembali memori
kita tentang teknik membuat kisi-kisi soal? Sudah mulai terbayang? Jika belum
juga, paksakan membayangkan apa saja sambil ikuti pengetahuan konsep kisi-kisi
soal berikut ini:
1. kolom
KD (kompetensi dasar)
2. kolom
ruang lingkung materi
3. kolom
kelas. Jika soal yang akan dibuat dari beberapa tingkatan, seperti soal UM
kelas XII. Jika soal itu hanya untuk satu tingkat, kolom kelas dihilangkan, tetapi
data kelas di simpan dengan identitas di bagian kepala.
4. kolom
indikator. Ingat! Indikatornya bukan indikator seperti di silabus, tetapi indikator
khusus soal. “Seandainya sama dengan indikator silabus bagaimana?” Tidak apa
jika memang indikator itu sesuai.
5. kolom
tahap berfikir (gunakan taksonomi Bloom). Level kognitif dan ranah kognitif) L1=C1-c2, L2=C3, L3=C4,
C5, C6.
6. kolom
nomor soal
7. kolom
soal (jika soal disatukan di kisi-kisi), ada pula yang gunakan soal terpisah
dengan kisi-kisi
8. kolom
kunci jawaban (ada pula yang gunakan kolom terpisah dengan kisi)
Mau pakai yang
7 kolom, silahkan. Ingin gunakan yang 8 kolom, tidak dilarang. Tinggal kesepakatan
ditempat kita mengajar akan gunakan pola yang mana.
“Kalau
penjelasan cuma itu mah saya juga sudah tahu. Cuma yang suka bikin saya bingung
itu cara menyesuaikan indikator dengan ranah kogniti dan soalnya?” Gampang itu
tidak susah. Nanti, kita preteli perkolom dibagian selanjutnya.
Rawa Denok, 14 Mei 2020

Keren nih. Mantab Kang Yunu!
BalasHapusMantul...smga jd pencerahan buat kita semua,dam membuat kita tidak mudah menyerah..he..he..
BalasHapus