Kamis, 14 Mei 2020

TULIS SOAL BARU KISI-KISI


SOAL DULU BARU KISI-KISI
Kang Yunu



Dari seabrek tugas pendidik, salah satunya melakukan penilaian. Penilaian dilakukan sebagai parameter antara perencanaan, pelaksanaan dan hasil yang diharapkan. Mari kita ingat-ingat. Dalam satu tahun pembelajaran, kita suka adakan penilaian harian, Penilaian Tengah Semester yang kemudian diganti istilahnya jadi Penilaian Harian Bersama, endingnya ada Penilaian Akhir Semester.  Itu sekedar menyebut beberapa, jika ada jenis penilaian yang belum tak tertuliskan, silahkan diingat-ingat sendiri.

Saat akan melakukan penilaian, tidak sedikit pendidik yang merasa kewalahan ketika harus membuat soal.  Kendala awal, banyak pendidik yang membuat soal ulangan tidak berdasarkan ketentuan, mungkin Saya, Anda, juga mereka lebih sering membuat soal tanpa membuat kisi-kisi. “Siapa bilang, saya selalu buat.” Buat sih, buat, tetapi kisi-kisi dibuat setelah soal. “Lah, saya mah buat kisi-kisi dulu.” Anda benar, tetapi salahnya kisi-kisi yang Anda  buat tidak sesuai aturan. “Memangnya ada yang larang buat soal dulu baru kisi-kisi?” Tidak ada yang larang, hanya secara tahapan terjadi penyimpangan. Tahapan yang mesti dilakukan yaitu buat kisi-kisi, kemudian buat soal.

Saya, Anda, dan mereka pasti pernah mengikuti pelatihan atau workshop atau apalah namanya tentang pembuatan soal? Nah, mari buka kembali memori kita tentang teknik membuat kisi-kisi soal? Sudah mulai terbayang? Jika belum juga, paksakan membayangkan apa saja sambil ikuti pengetahuan konsep kisi-kisi soal berikut ini:

1.  kolom KD (kompetensi dasar)
2.  kolom ruang lingkung materi
3. kolom kelas. Jika soal yang akan dibuat dari beberapa tingkatan, seperti soal UM kelas XII. Jika soal itu hanya untuk satu tingkat, kolom kelas dihilangkan, tetapi data kelas di simpan dengan identitas di bagian kepala.
4. kolom indikator. Ingat! Indikatornya bukan indikator seperti di silabus, tetapi indikator khusus soal. “Seandainya sama dengan indikator silabus bagaimana?” Tidak apa jika memang indikator itu sesuai. 
5. kolom tahap berfikir (gunakan taksonomi Bloom). Level kognitif  dan ranah kognitif) L1=C1-c2, L2=C3, L3=C4, C5, C6.
6. kolom nomor soal
7. kolom soal (jika soal disatukan di kisi-kisi), ada pula yang gunakan soal terpisah dengan kisi-kisi
8. kolom kunci jawaban (ada pula yang gunakan kolom terpisah dengan kisi)

Mau pakai yang 7 kolom, silahkan. Ingin gunakan yang 8 kolom, tidak dilarang. Tinggal kesepakatan ditempat kita mengajar akan gunakan pola yang mana.

“Kalau penjelasan cuma itu mah saya juga sudah tahu. Cuma yang suka bikin saya bingung itu cara menyesuaikan indikator dengan ranah kogniti dan soalnya?” Gampang itu tidak susah. Nanti, kita preteli perkolom dibagian selanjutnya.

Rawa Denok,  14 Mei 2020

2 komentar:

  1. Mantul...smga jd pencerahan buat kita semua,dam membuat kita tidak mudah menyerah..he..he..

    BalasHapus